LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN KUALITATIF KARBOHIDRAT


laporan praktikum uji kualitatif karbohidrat

PENGUJIAN KUALITATIF  KARBOHIDRAT DENGAN UJI IODIN DAN UJI BENEDICT

Dudi Damaraa, Hanief Ilestin Maharanib dan Supriyadic

Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Garut

Jl. Raya Samarang No. 52 Telp. 0262 544217

Email: dudi.damara@gmail.com

Dikumpulkan pada tanggal 21 April 2017

ABSTRAK

Karbohidrat merupakan suatu komponen makro yang tersusun atas polihidroksi aldehid atau polihidreksi keton. Karbohidrat dengan zat tertentu akan menghasilkan warna tertentu yang dapat digunakan untuk analisi kualitatif. Analisi kualitatif karbohidrat adalah adanya bahan pangan yang terlihat dengan indikator perubahan warna. Pengujian kualitatif karbohidrat pada praktikum ini menggunakan metode uji iodin dan uji benedict. Prinsip uji iodin adalah suatu senyawa karbohidrat yang berubah warna biru setelah direaksikan dengan iodine menunjukan adanya pati atau amilum, berubah menjadi warna merah bata menunjukan adanya glikogen atau aminodekstrin dan coklat menunjukan adanya glikogen. Sedangkan uji benedict adalah Cu2+ akan direduksi oleh gula menjadi Cu+. Dalam hal ini terbentuk endapan Cu2O.Reaksi dinyatakan positif apabila terbentuk endapan berwarna biru kehijauan sampai merah batu bata (tergantung pada kadar gula reduksi pada bahan).

Pada uji iodin menunjukan amilum, tepung beras dan dekstrin positif termasuk ke dalam polisakarida. Dimana amilum dan tepung beras  menunjukan warna biru dan dekstrin berwarna merah bata. Namun glukosa dan sukrosa pun menunjukan hasil positif sebagai polisakarida yang seharusnya glukosa dan sukrosa tidak termasuk kedalam polisakarida. Pada uji benedict glukosa fositif sebagai gula pereduksi. Namun sukorsa menunjukan warna yang sama seperti glukosa, yang seharusnya sukrosa tidak termasuk gula pereduksi. Susu murni menunjukan hasil negatif sebagai gula pereduksi, yang seharusnya susu murni termasuk kedalam gula pereduksi. Amilum, dekstrin dan tepung beras negatif sebagai gula pereduksi.

Uji iodin digunakan untuk medeteksi adanya pati (suatu polisakarida) sedangkan uji benedict digunakan untuk menunjukan adanya gula pereduksi.

Kata kunci : karbohidrat, uji iodin, uji benedict.


PENDAHULUAN

Karbohidrat merupakan suatu komponen makro yang tersusun atas polihidroksi aldehid atau polihidreksi keton, dengan rumus empiris CnH2nOn yang keberadaannya sebagai salah satu komponen mayor dalam bahan pangan (Rauf, 2015). Karbohidrat adalah sumber energi terbesar dalam makanan sehari-hari dan biasanya merupakan 40-45% dari asupan kalori kita (Dawn B Marks, 2000). Disamping sebagai sumber kalori utama, karbohidrat berperan dalam menentukan sifat fisik, kimia dan sensorik makanan (Rauf, 2015).

Ada dua macam karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat simpleks. Karbohidrat simplek misalnya nasi, biji-bijian, kentang dan jagung sedangkan contoh karbohidrat simpleks adalah gula dan pemanis lainnya. Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida, berasal dari bahasa Arab “saklar” yang artinya gula. Melihat struktur molekulnya, karbohidrat lebih tepat didefinisikan sebagai polihidroksialdehid atau polihidroksiketon (Ramsden, 1994)

Secara umum karbohidrat dikelompokan berdasarkan jumlah monomernya yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida merupakan golongan karbohidrat yang paling sederhana dan hanya tersusun atas satu unit gula serta tidak dapat dihidrolisis menjadi unit-unit karbohidrat yang lebih kecil,  Oligosakarida merupakan polimer yang tersusun atas 2-10 unit monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan glikosidik dan polisakarida merupakan polimer yang tersusun atas lebih dari 10 unit monosakarida (Rauf, 2015).

Karbohidrat dengan zat tertentu akan menghasilkan warna tertentu yang dapat digunakan untuk analisi kualitatif (Puspita, 2013). Analisi kualitatif karbohidrat adalah adanya bahan pangan yang terlihat dengan indikator perubahan warna. Uji kualitatif karbohidrat yang mendasarkan pada pembentukan warna dapat dilakukan dengan cara uji molish, uji selliwanof, uji benedict, uji fehling dan uji iodin (Maria, 2010).

Pengujian kualitatif karbohidrat pada praktikum ini menggunakan metode uji iodin dan uji benedict. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui prinsip dan jenis karbohidrat yang terdapat dalam bebrapa bahan pangan yang digunakan.

Prinsip uji iodin adalah suatu senyawa karbohidrat yang berubah warna biru setelah direaksikan dengan iodine menunjukan adanya pati atau amilum, berubah menjadi warna merah bata menunjukan adanya glikogen atau aminodekstrin dan coklat menunjukan adanya glikogen. Sedangkan uji benedict adalah Cu2+ akan direduksi oleh gula menjadi Cu+. Dalam hal ini terbentuk endapan Cu2O. Reaksi dinyatakan positif apabila terbentuk endapan berwarna biru kehijauan sampai merah batu bata (tergantung pada kadar gula reduksi pada bahan).

METODOLOGI

Bahan dan Alat

Praktikum ini di lakukan di Laboratorium terpadu Fakultas Pertanian, Universitas Garut. Praktikum dilaksanakan pada hari sabtu, 08 April 2017 12.00-13.00 WIB.

Bahan yang digunakan pada uji iodin adalah air, larutan glukosa, larutan sukrosa, larutan amilum, larutan dekstrin, larutan susu murni, larutan tepung beras dan larutan iodin sedangkan bahan yang digunakan pada uji benedict adalah air larutan glukosa, larutan sukrosa, larutan amilum, larutan dekstrin, larutan susu murni, larutan tepung beras dan larutan benedict. Alat yang digunakan pada uji iodin dan uji benedict adalah sama, yaitu tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, beaker glas, kaki tiga, kawat kasa dan pemanas spirtus.

Metode

Prosedur pada uji iodin adalah dimasukan 2 mL sampel bahan pada tabung reaksi dengan menggunakan pipet tetes, tambahkan larutan peraksi dengan larutan iodine 3 mL, goyangkan tabung reaksi yang berisi laturan sampai homogen, panaskan tabung reaksi didalam beaker glass yang berisi air dengan menggunakan pemanas spirtus, kawat kasa dan kaki tiga. Sedangkan pada uji benedict sama dengan uji iodin hanya saja larutan pereaksi yang digunakan adalah laruan benedict dan tidak ada pemanasan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Hasil uji iodin

Sampel Hasil Uji
Glukosa +++
Sukrosa ++
Amilum ++
Dekstrin +++
Susu Murni
Tepung Beras ++

Keterangan :  Merah bata (+++), biru pekat/ungu pekat (++), biru kehijauan (++), hijau kebiruan (+), Selain ke empat warna di atas (-)

Tabel 2. Hasil uji benedict

Sampel Hasil Uji
Glukosa Kuning bening keemasan
Sukrosa Kuning bening keemasan
Amilum Biru pekat
Dekstrin Ungu pekat
Susu Murni Putih
Tepung Beras Ungu muda pekat

Uji iodin digunakan untuk medeteksi adanya pati (suatu polisakarida) (Togatorop, 2014). Reaksi yang ditimbulkan uji iodin terhadap zat-zat karbohidrat diantaranya amilum (biru), dekstrosa (ungu), maltosa (merah), glukosa (tak berwarna), glikogen (coklat-merah) dan selulosa (coklat) (Sulistyani, 2011).

Uji benedict digunakan untuk menunjukan adanya gula pereduksi (Anonymous, 2014). Gula pereduksi merupakan gula yang memiliki gugus hidroksil (-OH) bebas yang reaktif, yang terletak pada gugus aldehid dan keton ((Rauf, 2015). Gula pereduksi dapat bereaksi dengan reagen benedict karena keduanya mengandung aldehida ataupun keton bebas. Apabila setelah diuji benedict suatu larutan berwarna hijau maka konsentrasi gula pereduksinya sedikit, berwarna kuning maka konsentrasinya lebih banyak, dan apabila berwarna merah bata maka konsentrasinya lebih banyaka lagi. Namun apabila larutan berwarna tetap atau selain merah bata, kuning dan hijau hal itu menandakan bahwa tidak terdapat gula pereduksi dalam larutan tersebut (Anonymous, 2014).

Sampel yang digunakan dalam praktikum termasuk ke dalam beberapa kelompok karbohidrat, diantaranya glukosa (monosakarida-gula pereduksi), sukrosa (disakarida-bukan gula pereduksi), susu murni (disakarida-gula pereduksi), amilum (polisakarida), dekstrin (polisakarida-dihasilkan dari hidrolisis pati dengan enzim) dan tepung beras (polisakarida).

Pada uji iodin menunjukan amilum, tepung beras dan dekstrin positif termasuk ke dalam polisakarida. Dimana amilum dan tepung beras  menunjukan warna biru dan dekstrin berwarna merah bata. Namun glukosa dan sukrosa pun menunjukan hasil positif termasuk ke dalam polisakarida. Dimana glukosa menunjukan warna merah bata dan sukrosa berwarna biru. Menurut (Sulistyani, 2011) glukosa pada uji iodin tidak berwarna dan menurut (Affani, 2008) uji iodin pada sukrosa berwarna kuning hal ini menunjukan bahwa glukosa dan sukrosa negatif ke dalam polisakarida.

Pada uji benedict glukosa fositif termasuk gula pereduksi. Namun sukorsa menunjukan warna yang sama seperti glukosa, menurut (Sulistyani, 2011) sukrosa tidak termasuk ke dalam gula pereduksi. Susu murni menunjukan hasil negatif sebagai gula pereduksi, yang seharusnya susu murni termasuk kedalam gula pereduksi. Amilum, dekstrin dan terpung beras negatif tidak termasuk gula pereduksi.

Pertanyaan

  1. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi karbohidrat menurut monomernya?
  2. Sebutkan karbohidrat yang termasuk kedalam gula pereduksi?

Jawaban

  1. Berdasarkan jumlah monomernya karbohidrat dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida merupakan golongan karbohidrat yang paling sederhana dan hanya tersusun atas satu unit gula serta tidak dapat dihidrolisis menjadi unit-unit karbohidrat yang lebih kecil, Oligosakarida merupakan polimer yang tersusun atas 2-10 unit monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan glikosidik dan polisakarida merupakan polimer yang tersusun atas lebih dari 10 unit monosakarida.
  2. Karbohidrat yang termasuk kedalam gula pereduksi adalah semua monosakarida kecuali fruktosa dan semua disakarida kecuali sukrosa.

KESIMPULAN

 Uji iodin digunakan untuk medeteksi adanya pati (suatu polisakarida) sedangkan uji benedict digunakan untuk menunjukan adanya gula pereduksi.

Reaksi yang ditimbulkan uji iodin terhadap zat-zat karbohidrat diantaranya amilum (biru), dekstrosa (ungu), maltosa (merah), glukosa (tak berwarna), glikogen (coklat-merah) dan selulosa (coklat) dan reaksi yang ditimbulkan uji benedict terhadap gula pereduksi berwarna hijau konsentrasi gula pereduksinya sedikit, berwarna kuning konsentrasi gula pereduksi lebih banyak, dan berwarna merah bata konsentrasi gula pereduksi lebih banyaka lagi, namun apabila larutan berwarna tetap atau selain merah bata, kuning dan hijau hal itu menandakan bahwa tidak terdapat gula pereduksi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Affani Mega. 2008. Laporan Praktikum Karbohidrat.

Dawn B., Marks. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta. EGC.

Maria Bintang. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta. Erlangga.

Puspita Fika. 2013. Uji Kualitatif Untuk Karbohidrat. Purwokerto. Universitas Jendral Soedirman.

Ramsden E. 1994. Kimia. Cheltenham. Stanley Thornes Ltd.

Rauf Rusdin. 2015. Kimia Pangan. Yogyakarta. Andi Offset.

Sulistyani. 2011. Karbohidrat. Yogyakarta. Universitas Negri Yogyakarta.

Togatorop Ervan. 2014. Uji Karbohidrat Uji Iodin. Makasar. Universitas Hasanudin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *