PENERAPAN ADSORBEN UNTUK MENGURANGI KADAR KROM (Cr)


PENERAPAN ADSORBEN UNTUK MENGURANGI

KADAR KROM (Cr) PADA SUNGAI CIGULAMPENG DAN

SUNGAI CIWALEN

 PENERAPAN ADSORBEN UNTUK MENGURANGI KADAR KROM (Cr)

Permasalahan pencemaran air yang disebabkan oleh industri penyamakan kulit di kawasan Sukaregang, Kabupaten Garut terus menjadi sorotan berbagai pihak. Industri ini menggunakan krom (Cr) dalam proses untuk memperoleh kulit tersamak. Cr tersebut tidak semuanya diserap oleh kulit sehingga menghasilkan limbah krom yang terbukti sudah mencemari sungai Cigulampeng dan sungai Ciwalen. Permasalahan ini sangat meresahkan warga sekitar pasalnya logam Cr ini juga mencemari sumur-sumur warga sekitar dimana warga sehari-hari mengkonsumsi air dengan adanya logam berat Cr. Logam Cr merupakan salah satu logam berat yang bersifat toksik, toksisitasnya tergantung pada valensi ionnya, dan toksisitas Cr+6 ±100 kali toksisitas Cr+3 (Perdana et al., 2013). Selain toksik, Cr+6 bersifat sangat korosif dan karsinogenik (Rahmawati & Suhendar, 2015).

Dalam upaya menangani pencemaran air oleh logam Cr, maka diperlukan teknik pengolahan limbah yang tepat, praktis, dan murah. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi ion logam Cr dalam limbah cair, antara lain dengan cara pengendapan, pertukaran ion, adsorpsi, elektrolisis (Suhartini, 2013; Nurfitriyani et al., 2014). Metode adsorpsi merupakan cara konvensional tetapi paling efektif untuk mengurangi ion logam Cr terutama Cr+6 (Dewi & Ridwan, 2012). Salah satu adsorben alternatif  yang menjanjikan adalah penggunaan karbon dari limbah organik seperti limbah tanaman jagung, padi, pisang, dan lain-lain.

Keuntungan menggunakan metode  tersebut dibandingkan dengan metode lain, seperti pengendapan secara kimia, membran filtrasi, pertukaran ion, dan ekstraksi pelarut adalah: metode adsorpsi lebih murah; tidak menimbulkan efek samping beracun dan efektif pada konsentrasi logam yang rendah (Igwe dan Abia, 2007); selain itu jenis adsorben yang digunakan juga banyak dan beragam (El-Said, et al., 2012) seperti kitosan. Penggunaan adsorben tersebut membutuhkan proses pembuatan yang lebih lama, cenderung menggunakan bahan kimia dan mahal (Igwe dan Abia, 2007), sehingga diperlukan alternatif lain yang lebih murah, bahan dasarnya mudah diperoleh (El-Said, et al., 2012), serta tidak membutuhkan proses pembuatan yang lama dan tidak memerlukan banyak perlakuan dalam pembuatannya (Ngah dan Hanafiah, 2008). Adsorbsi dapat dibuat oleh masyarakat sendiri maka masyarakat dapat mengaplikasikan sendiri. Dengan menggunakan adsorbsi maka dapat mengurangi kadar Cr, maka masyarakat sekitar dapat mengkonsumsi air yang layak dan tidak harus resah lagi mengenai sumur mereka  yang terkontaminasi oleh logam berat Cr. Dalam hal ini pemerintah juga harus ikut berperan dalam mengadakan penyuluhan tentang cara pembuatan dan penggunaan adsorben. Pemerintah melalui instruksinya menyerukan agar pabrik penyamakan kulit sukaregang melakukan penyulingan atau penyaringan limbah menggunakan adsorben, dan juga mengadakan penyuluhan kepada petani untuk melakukan penyaringan air irigasinya menggunakan adsorben.

Hanief Ilestin Maharani

Mahasiswa Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian

Universitas Garut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *